Indahnya Kebersamaan


Mencoba melengkapi ceritanya Mbak Sakti, istri sahabat karibku. Sebuah kisah yang serupa yang mungkin tak sama. Di-copas mentah-mentah dari buku "Berbagi Kisah dan Harapan, Perjalanan Modernisasi Direktorat Jenderal Pajak." Belum sempat minta izin sama yang nulis tapi [yakin] moga saja dibolehkan sehingga bisa jadi pencerahan bagi semua. Berikut kisahnya :

“Abi, Dik Razan sakit,” telepon istriku dari pulau seberang. Kami harus berpisah  karena  aku  ditugaskan di  Samarinda.  Sebenarnya  kami  berharap setelah  lulus  dari  Program  S1  Beasiswa,  aku  bisa bertugas  di  Jawa  karena track  record  angkatan-angkatan  sebelumnya  mendapat  penempatan  di Jawa. Sebelumnya, penempatan pertamaku di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, kemudian pindah ke Majene, Sulawesi Barat dan akhirnya dapat kesempatan tugas belajar.

Saat istriku menelepon, analisa dokter Dik Razan terkena campak.

Pesta Pora Versus Duka Lara


Akhir tahun digegerkan dengan berita kematian seorang pembesar negeri, KH Abdurrahman Wahid. Sementara banyak orang sedang mempersiapkan pesta malam tahun baru, mungkin di kediaman almarhum sedang diselenggarakan tahlilan. Kontras, PESTA PORA VS DUKA LARA.

Di negeri perantauan ini pun, sedapat mungkin aku tidak akan keluar rumah pada malam tahun baru. Pada malam tahun baru yang lalu, ketika pulang kantor aku terjebak dalam kemacetan yang luar biasa padatnya. Hal yang tidak pernah sama sekali aku temui di hari-hari biasa sebelumnya. Sejenak, muncul ketakutan di dalam hati. Andai ketika itu tiba-tiba datang bencana mesti aku tak bisa lari-lari kemana dan yakin sekali negeri ini akan menjadi negeri mati. Jalanan akan dipenuhi mayat anak-anak, remaja sampai tua renta.

Memulai Terkadang Begitu Sulit

Aku suka menulis sejak dulu. Tak tau sebab musababnya apa. Semakin keliatan ketika di SMP, sejuta puisi ditulis untuk mengungkapkan perasaan pada kekasih (jiaaah...! romantis, cuy!). Semakin tersalurkan hobby itu ketika di SMA bergabung dengan Organisasi Paramita, sebuah organisasi dimana wartawan-wartawan kecil berkecimpung. Layaknya seorang wartawan, sibuk berburu berita tentang sekolah dan hal-hal lainnya sesuai tugas masing-masing. Masa itu, majalah hanya terbit maksimal 2 kali setahun. Masalah finansial, menjadi kendala utama. Dan juga kami tak bisa terlalu fokus di organisasi, bisa keteteran pelajaran. Tapi, walaupun gak fokus di organisasi sebagian juga tetep aja prestasinya anjlok.

Sudahlah, kisah kasih [baca kisah-kisah] di sekolah adalah cerita yang terlalu panjang untuk diceritakan disini. Back to the theme...