Mencoba melengkapi ceritanya Mbak Sakti, istri sahabat karibku. Sebuah kisah yang serupa yang mungkin tak sama. Di-copas mentah-mentah dari buku "Berbagi Kisah dan Harapan, Perjalanan Modernisasi Direktorat Jenderal Pajak." Belum sempat minta izin sama yang nulis tapi [yakin] moga saja dibolehkan sehingga bisa jadi pencerahan bagi semua. Berikut kisahnya :
“Abi, Dik Razan sakit,” telepon istriku dari pulau seberang. Kami harus berpisah karena aku ditugaskan di Samarinda. Sebenarnya kami berharap setelah lulus dari Program S1 Beasiswa, aku bisa bertugas di Jawa karena track record angkatan-angkatan sebelumnya mendapat penempatan di Jawa. Sebelumnya, penempatan pertamaku di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, kemudian pindah ke Majene, Sulawesi Barat dan akhirnya dapat kesempatan tugas belajar.
Saat istriku menelepon, analisa dokter Dik Razan terkena campak.


