Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Kendi Bocor

Alkisah di perbukitan sebuah negeri tinggallah seorang nenek tua di sebuah gubuk kecil. Tiada sesiapa pun yang menemaninya. Namun demikian, dia tetap menjalani hari-harinya dengan semangat.

Setiap pagi dia turun bukit menyandang dua buah kendi dengan sebilah bambu yang diletakkan di bahunya. Setibanya di bawah bukit diisinya kedua buah kendi dengan air. Setelah penuh kedua kendi dengan air, dia segera kembali ke gubuknya dengan menyandang dua buah kendi tersebut. Sebenarnya ketika sampai di gubuk hanya akan tersisa satu kendi yang penuh berisi air, karena satu kendi lagi bocor. Namun demikian, setiap paginya nenek tua ini tetap membawa kedua kendi ke bawah bukit.

Acapkali kendi yang sempurna bentuknya merendahkan si kendi bocor.

"Kamu menjadi kendi yang sangat tidak berguna. Hanya membebani nenek sepanjang jalan. Tapi, sampai di rumah kamu tidak membawa apa-apa."

Kendi bocor menjadi sangat sedih apabila mendengar perkataan kendi yang sempurna bentuknya. Dia juga sebenarnya iri dengan kendi yang sempurna bentuknya karena dengan kesempurnaannya dia dapat membantu nenek tua.

Suatu pagi dalam perjalanan pulang menuju gubuk, kendi bocor mengutarakan isi hatinya kepada nenek tua.

"Nenek, bolehkah aku bertanya?"

"Apa yang hendak kau tanyakan, Kendi?"

"Nenek, kenapa engkau terus membawaku dan mengisiku penuh dengan air ke bawah bukit? Sementara engkau tahu bahwa aku bocor dan selalu tak ada air yang tersisa padaku ketika sampai di gubuk."

Nenek tua tersenyum dan kemudian berkata,

"Kendiku sayang, lihatlah di kiri dan kananmu. Ada begitu banyak bunga indah berwarna-warni dan bermekaran. Ini juga karena jasamu. Sesekali ketika kembali ke atas bukit aku menyandangmu di sebelah kiri dan sesekali di sebelah kanan. Agar air yang keluar dari bagian bocormu dapat menyiram bibit bunga yang telah kutanam."

"Tidakkah kau lihat jalanan kita yang dulu hanya dihias semak belukar sekarang telah menjadi bukit bunga yang indah," lanjut nenek tua.

Kendi bocor begitu bahagia ternyata kekurangan dirinya tak membuat dia kurang manfaatnya. Kendi yang sempurna bentuknya pun akhirnya menyadari bahwa pandangannya selama ini terhadap kendi bocor ternyata salah. Dia meminta maaf kepada kendi bocor.

"Kendi bocor" dan "kendi sempurna" banyak terlihat di keseharian kita. Namun, kendi yang satu selayaknya menjadi pelengkap kendi lainnya. Kelebihan tak harus menjadikan kita jemawa, kekurangan tak harus membuat kita terus tertunduk malu. Kelebihan dan kekurangan manusia satu menjadi penyempurna bagi manusia lainnya. Ibarat pohon, manusia berasal dari satu akar yang sama, semua adalah anak cucu Adam AS. Dari akar yang satu kemudian akan ada yang menjadi batang, dahan, ranting, daun, bunga dan buah. Walaupun berbeda-beda bentuk dan fungsi namun pada akhirnya semua bermanfaat untuk pohon.

Siapa pun kita, "kendi bocor" ataupun "kendi sempurna" telah diciptakan dengan semua kelebihan yang pasti dan pasti dapat menghasilkan manfaat untuk sesama.
------------------------------------------------
Gambar pada post ini saya ambil dari sini

Adalah Arti Sebuah Nama

Sebuah ungkapan yang sangat jamak kita dengar, "Apalah Arti Sebuah Nama?"

Saya ingin menjawab, "Adalah (baca: ada dong) arti sebuah nama."

Bagi saya, nama adalah doa dan harapan. Sehingga, nama yang diberikan haruslah sebaik-baik nama karena di dalam doa ada harapan. Lazimnya tak ada orang yang berdoa buruk untuk dirinya sendiri atau keluarga yang dia cintai. Hal itulah yang mendasari saya dan istri memberikan nama terbaik untuk ketiga buah hati kami. Harapannya, ketika orang memanggilnya seketika itu pula orang berdoa buat mereka.

Nawfal Ahmad Vianza, anak laki-laki pertama kami ini lahir 21 Juli 2008. Nama yang kami berikan berasal dari buku-buku nama islami yang kami beli di toko buku, karena kami juga kurang tahu banyak tentang kosakata bahasa arab dan serumpunnya. Nawfal memiliki arti dermawan, Ahmad adalah nama lain Rasulullah SAW dan Vianza adalah nama keluarga yang kelak kami sematkan di belakang nama setiap anak kami. Doa dan harapan kami untuk si sulung adalah agar dia esok menjadi orang yang dermawan dan terpuji.

Naureen Aqila Vianza, anak kedua kami seorang perempuan lahir pada 25 April 2010. Menurut buku yang kami baca, Naureen memiliki arti cahaya terang benderang dan Aqila artinya orang yang memiliki akal. Menurut pemahaman kami paduan dua kata ini kurang lebih memiliki makna manusia yang memiliki akal dengan cahaya terang benderang. Berharap, kelak putri cantik kami ini dianugerahi akal (pemikiran) yang senantiasa dinaungi cahaya illahi.

Nauzan Althaf Vianza, anak bungsu kami saat ini yang dilahirkan 20 Juli 2013. Nauzan memiliki arti pemimpin, althaf artinya lemah lembut. Sehingga, harapan kami dari nama ini kira-kira kelak si bungsu akan menjadi pemimpin yang tetap memiliki kelembutan hati dalam menaungi orang yang dia pimpin.

Alhamdulillah, nama-nama itu mulai 'memperlihatkan diri' dari tingkah laku mereka sehari-hari. Sulung sangat sering berbagi dengan kawan-kawan mainnya. Hanya saja, karena egoisme anak-anak kecil dia kurang begitu mau berbagi dengan adiknya sendiri. Semoga makin besar akan makin dewasa dan dermawan.

Anak kedua kami, sampai sekarang masih belum begitu fasih dalam berbahasa. Namun, barakallah akalnya sepertinya diterangi cahaya al Quran. Ketika dia mendengar bacaan al Quran dari TOA masjid, dia kemudian akan mengingat dan menirukan dengan bahasanya sendiri. Kadang di rumah sering dia mengulang-ngulang bacaan (seperti) lantunan al Quran baik siang maupun malam.

Si bungsu juga menunjukkan kelakuan yang menurut kami lucu dan kadang mengundang tawa. Ketika melihat kakak perempuannya menangis dia seolah mau menangis dan bahkan tak jarang ikut menangis. Seraya mau menangis, bungsu langsung memegang tangan kakaknya dan menuntunnya mendekati kami atau masuk ke kamar. Sepertinya, cerminan dari pemimpin yang lemah lembut memang telah tergambar sejak kecilnya.

Sedikit keluar dari soal nama anak, namun masih ada hubungan dengan nama. Jadi di salah satu jalan pintas sekitar satu kilo dari rumah kami, ada sebuah jalan yang di plank nama jalan tertulis "Jalan Kerikil". Kami pernah tinggal tak jauh dari sana selama 2 tahun dan telah tinggal di rumah kami yang sekarang sekitar 4 tahun. Dan selama itu, jalan kerikil tetap menjadi jalan berkerikil walau jalan di sampingnya telah berganti aspal atau jalan semen yang mulus.

Nama, sekali lagi adalah representasi dari doa dan harapan kita. Tidak ada nama yang terlalu berat dan berlebihan selama tidak melanggar hak-hak illahi dan aturan agama. Berilah nama terbaik, semoga semakin sering nama itu disebut makin mudah nama itu menembus langit.

Mama, Selamat Jalan

Pulang kantor hari kamis 24 April 2014, mata istri saya terlihat sembab habis menangis. Ia coba menyembunyikannya tapi sayangnya tidak berhasil. Pelan-pelan ditanya ada apa, ternyata habis dikirimin foto keadaan Mama (mertua saya) yang memang sakit sejak awal tahun. Keadaannya yang kurus dan kelihatan lemah membuat hatinya luluh dan meminta pulang, saya masih menahan karena ada urusan sekolah anak yang harus diselesaikan dulu. Mencoba menenangkannya sampai akhirnya terlelap.

Esok pagi ketika di kantor istri kirim pesan minta pulang hari itu. Okelah saya izinkan, dan akhirnya naik travel ke Bukittinggi yang berangkat selepas isya. Saya tetap di Pekanbaru sendiri, karena hari Sabtu harus lembur.

Semenjak disana, saya dikabarkan keadaan Mama semakin membaik. Badannya yang tadi kurus sudah semakin berisi, yang tadinya lemah berangsur semangat, mulai berjalan sendiri dengan berpegangan di kursi. Hari-harinya semakin bersemangat apalagi ada si kecil Nauzan yang menjadi kawan mainnya.

Tanggal 2 Mei 2014 sehabis senam pagi di kantor, istri menelpon bahwa Mama sudah tidak bangun lagi. Saya mencoba menenangkan, dan meminta untuk mencari pertolongan pertama ke dokter atau rumah sakit. Saya langsung izin ke atasan untuk pulang cepat. Karena bukan jamnya travel ke Bukittinggi akhirnya diputuskan naik sepeda motor vixion kawan.

Saya berangkat jam 10.45 dari Pekanbaru, istirahat jumatan di Tanjung Alai. Dan tiba di Bukittinggi sekitar pukul 15.30 ketika azan ashar. Sampai di rumah, langsung kabur ke masjid dulu. Kemudian setelah kembali ke rumah, melihat keluarga menangis dan membaca yasin. Saya lihat sepertinya masih ada harapan, mencoba rembukan agar dibawa ke rumah sakit dulu.

Singkat cerita, akhirnya di bawah ke Rumah Sakit Achmad Muchtar BUkittinggi. Mama dinyatakan koma, gula darahnya di bawah batas. Sampai Ahad disana, belum ada perkembangan yang berarti Mama masih di ruang ICU. Saya izin pulang dulu ke Pekanbaru.

Saya kembali aktivitas seperti biasa dan merencanakan akan meminta cuti dari pekerjaan minggu depan. Hari Rabu tanggal 7 Mei 2014 sekitar jam 15.00 kembali mendapat telpon bahwa Mama telah tiada. Saya panik, namun tetap mencoba tenang dan menenangkan istri saya. Saya izin ke atasan dan langsung disuruh cuti saja, administrasi dan lain-lain menyusul.

Setelah ashar, mencoba peruntungan menyetop travel ke Bukittinggi di jalan. Akhirnya dapat juga travel ke Bukittinggi setelah sebelumnya salah naik bus. Kelakuan travel plat hitam disini memang agak, aneh, saya berapa kali muter-muter dulu cari penumpang. Bahkan ketika sudah melaju agak lumayan jauh meninggalkan Pekanbaru, travel kembali ke batas kota Pekanbaru karena ada telpon buat jemput satu penumpang lagi. Finally, jam 17.30 baru beranjak dari Pekanbaru.

Sepanjang perjalanan, saya tak bisa menahan air mata. Mengalir sendiri tak tertahankan. Bagi saya mertua saya sudah seperti orang tua sendiri, bukan siapa-siapa. Beliau pun demikian, memperlakukan saya dengan luar biasa seperti anak kandung sendiri. Kalau saya dan keluarga datang, sibuk sendiri menyiapkan segala sesuatunya. Kawan-kawan kantor yang sempat sekali menginap disana pun meninggalkan kesan yang sama.

Perjalanan kami ternyata tak juga mudah. Di tengah perjalanan menjelang kelok sembilan ada pohon besar yang tumbang sehingga perjalanan terhambat. Normalnya saya seharusnya sudah tiba di Bukittinggi jam 11.00 malam tapi molor sampai jam 02.30 dini hari.

Sampai di rumah terlihat Mama sudah dibaringkan. Setelah berwudhu, membaca yasin dan saya tersedu-sedu di dalam doa demi mengingat setiap kebaikannya dan berharap Allah menetapkan ketetapan yang baik untuknya di kubur dan perjalanan selanjutnya.

Esok harinya Mama dimakamkan di pemakaman suku. Setelah sebelumnya dishalatkan di masjid depan rumah. Kami mengiringi kepergiannya dengan air mata yang tak kuasa kami tahan. Kami anak-anak dan menantunya merasa bahwa terlalu singkat kebersamaan kami dengannya. Kami bersaksi bahwa beliau adalah orang tua yang baik.

“Ya Allah, ampuni dan rahmatilah Mama. Selamatkanlah dan maafkanlah Mama. Berilah kehormatan untuk Mama, luaskanlah tempat masuk Mama. Mandikanlah Mama dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah Mama dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah bagi Mama rumah yang lebih baik dari rumahnya. Masukkanlah dia ke dalam surga, lindungilah dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah bagi Mama dalam kuburnya dan terangilah Mama di dalamnya.”

Walau sudah seminggu mata saya kadang sesekali masih berkaca-kaca apabila teringat beliau. Masih seolah tak percaya dengan kepergiannya. Mama, selamat jalan. Doa kami selalu menyertaimu. Kami akan selalu mengingatmu di hati kami dan berharap kelak diperjumpakan dalam kebahagiaan yang abadi.

Setiap Anak adalah Anugerah

Catatan kecil ini sengaja saya abadikan di blog kecil ini sebagai catatan pribadi yang suatu hari mungkin akan jadi 'reminder' bahwa "Every Child is Special", saya ingin mengartikannya bahwa "Setiap Anak adalah Anugerah".

Awalnya saya merasa disentil oleh film India yang rilis tahun 2007 silam. Judulnya "Taare Zameen Par" (Like Stars on Earth). Film ini mengisahkan seorang anak berumur 8 tahun, Ishaan Awasthi. Dia menjadi troublemaker, bagi orang tua dan juga sekolahnya. Dia selalu mendapat nilai merah di kelasnya. Hukuman dari guru pun menjadi langganannya setiap hari. Dia menjadi olokan kawan-kawannya di kelas. Sampai suatu ketika dia pun bolos dari sekolah karena tak membawa kertas PR yang ditandatangani orang tua dan berjalan-jalan sendirian di kota. Dia begitu menikmati jalan-jalan tersebut. Bolosnya pun berlanjut, ia merayu abang pertamanya untuk membuatkan surat izin tidak masuk. Surat izin ini akhirnya kedapatan oleh ayahnya suatu ketika. Ayahnya menjadi murka untuk kesekian kalinya setelah sebelumnya dibuat murka setelah dia berkelahi dan memecahkan pot bunga tetangga.

Ketika tengah tahun di kelas 3, ayah dan ibunya dipanggil ke sekolah. Intinya sekolah menyampaikan bahwa tahun depan mereka tidak akan mau menerima anaknya Ishaan apabila tidak ada perubahan dengan prestasi anaknya. Ayah dan ibunya merasa tak dapat lagi menangani anaknya Ishaan dan akhirnya memutuskan mengirim Ishaan ke sekolah asrama di tengah tahun tersebut dengan bantuan paman dari ayahnya yang menjadi wakil kepala sekolah di sekolah asrama tersebut.

Esok harinya, Ishaan langsung diantar oleh keluarganya ke sekolah asrama tersebut. Di sekolah ini, Ishaan menjadi tertekan dan kehilangan kosentrasi dalam belajar, apalagi di sekolah ini penerapan disiplin menjadi yang utama. Beberapa kali dia menerima hukuman.

Akhirnya, titik terang kehidupan Ihsaan mulai terlihat ketika seorang guru kesenian (Ram Shankar Nikumbh) yang awalnya guru pengganti melihat keadaan Ihsaan. Pak Nikumbh-lah yang kemudian berjuang keras membangkitkan lagi semangat Ihsaan setelah menemukan bahwa Ihsaan mengalami dyslexia yang juga pernah dialaminya semasa kecil. Perjuangan sang guru membuahkan hasil. Ihsaan akhirnya mulai bisa membaca dan menulis bahkan dia mendapat juara melukis. Dan lukisannya menjadi sampul buku tahunan sekolah asrama tempat dia belajar. Teman-temannya, para guru dan pastinya orang tuanya begitu bangga kepada Ihsaan.

Cerita yang luar biasa menyentuh terutama buat saya sebagai orang tua baru. Banyak pelajaran berharga yang akan menjadi rujukan bagi orang tua tentang bagaimana menghadapi anak-anak kita yang merupakan anugerah terindah dari Tuhan.

Ada sebuah cerita menarik yang saya juga catat dari penuturan sang guru Ram Shankar Nikumbh dalam film tersebut.

Albert Einstein, pria yang menghebohkan dunia dengan teori relativitasnya juga awalnya mempunyai kesulitan membaca dan menulis. Dia tidak bisa ingat kalau setelah huruf x adalah y. Kata-kata adalah musuhnya, jika ia melihat huruf, maka huruf-huruf itu menari-nari. Namun kemudian, dia mendapatkan penghargaan Nobel pada tahun 1921 di bidang Fisika.

Leonardo da Vinci, dia yang membuat sketsa Helikopter pada abad ke 15, 400 tahun sebelum pesawat pertama kali diterbangkan. Leonardo da Vinci juga memiliki kesulitan dalam membaca dan menulis. Dia menulis terbalik, persis seperti tulisan di mobil ambulance, bisa dibaca jelas dengan menggunakan cermin.

Thomas Alva Edison, penemu lampu. Dia juga tidak bisa membaca dan menulis dengan benar.

Abhishek Bachchan, semasa kecilnya, dia memiliki kesulitan dalam membaca dan menulis. Sekarang dia terkenal.

Dan masih ada lagi. Pablo Picasso, pelukis terkenal. Dia tidak pernah mengerti angka 7. Dia bilang, itu hidung paman saya yang terbalik.

Siapa bapak mickey mouse? Walt Disney. Bermasalah dengan huruf, dia menuangkan hidupnya ke dalam kartun.

Neil Diamond, penyanyi populer. Dia meluapkan rasa malunya dalam lagu.

Agatha Christie, penulis buku misteri terkenal. Bayangkan seorang penulis yang tidak bisa baca dan tulis sewaktu kecilnya.
 
 
Di akhir ceritanya sang guru mengatakan,

Lalu, kenapa aku menceritakan semua ini kepada kalian? Untuk menunjukkan bahwa ada permata seperti itu diantara kita. Yang mengubah dunia karena mereka bisa melihat dunia dengan cara yang berbeda. Pemikiran mereka unik dan tidak setiap orang bisa mengerti mereka. Mereka menentang. Sekarang mereka muncul sebagai pemenang dan dunia dibuat terkejut.

Maaf

Kisah luar biasa ini tak sengaja terbaca disela-sela waktu kerja, kisah luar biasa tentang kasih sayang dan kelembutan hati untuk memaafkan. Kisah dengan judul yang sama dengan post ini saya salin dari Majalah Rumah Lentera (Edisi 75 Tahun 8 Maret 2013) terbitan Rumah Zakat Indonesia. Semoga kisah ini menjadi ibrah yang kita pun dapat amalkan.

Suatu hari Umar kedatangan kakak beradik yang melaporkan seorang pemuda karena telah membunuh ayah mereka. Mereka meminta qishash sebagai bentuk keadilan atas perbuatan sang pemuda. Pemuda itu hanya tertunduk penuh sesal mengakui perbuatannya di depan Khalifah Umar. Tapi kedua kakak beradik tersebut bersikeras untuk melanjutkan qishash. Umar yang tumbuh simpati pada terdakwa yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab kehabisan akal meyakinkan penggugat.

"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakan qishash atasku, namun izinkan aku menunaikan semua amanah yang tertanggung dulu," sang pemuda berkata dengan tegar dan sopan. Dia berjanji akan kembali tiga hari lagi. Namun kedua kakak beradik dan juga Umar tak bisa mengijinkan pemuda itu pergi. Harus ada jaminan yang jelas atasnya.

"Jadikan aku penjaminnya Amirul Mukminin!" Tiba-tiba sebuah suara berat dan berwibawa menyeruak dari arah hadirin. Salman al Farisi.

"Salman?" hardik Umar. "Demi Allah engkau belum mengenalnya! Jangan main-main dengan urusan ini! Cabut kesediaanmu!"

"Pengenalanku padanya tak beda dengan pengenalanmu, ya Umar. Aku percaya padanya sebagaimana engkau mempercayainya," ujar Salman. Dengan berat hati, Umar melepas pemuda itu dan menerima penjaminan yang dilakukan oleh Salman.

Tiga hari berlalu sudah. Detik-detik menjelang eksekusi begitu menegangkan. Pemuda itu belum muncul. Umar gelisah. Penggugat mendecak kecewa. Semua hadirin sangat mengkhawatirkan Salman. Mentari nyaris terbenam. Salman dengan tenang dan tawakal melangkah ke tempat qishash. Isak pilu tertahan. Tetapi sesosok bayang berlari terengah dalam temaram, terseok terjerembab lalu bangkit dan nyaris merangkak. Pemuda itu dengan tubuh berpeluh dan napas putus=putus ambruk ke pangkuan Umar.

"Maafkan aku hampir terlambat!" ujarnya. "Urusan kaumku makan waktu. Kupacu tungganganku tanpa henti hingga ia sekarat di gurun dan terpaksa kutinggalkan, lalu kuberlari."

"Demi Allah, bukanlah engkau bisa lari dari hukuman ini? Mengapa susah payah kembali?" tanya Umar.

"Supaya jangan sampai ada yang mengatakan di kalangan muslim tak ada lagi ksatria yang tepat janji," ujar terdakwa sambil tersenyum.

"Lalu kau, Salman?" tanya Umar berkaca-kaca. "Mengapa kau mau menjadi penjamin seseorang yang tak kau kenal sama sekali?"

"Agar jangan sampai dikatakan di kalangan muslimin tak ada lagi saling percaya dan menanggung beban saudara," jawab Salman teguh.

"Allahu akbar! Allah dan kaum muslimin jadi saksi bahwa kami memaafkannya," pekik sang penggugat sambil memeluk terdakwa.

"Mengapa kalian berbuat seperti itu?" tanya Umar haru.

"Agar jangan ada yang merasa di kalangan kaum muslimin tak ada lagi kemaafan dan kasih sayang," sahut keduanya masih terisak.

------------------------------------------------
Gambar pada post ini adalah koleksi pribadi



Menggapai Surga dengan Segelas Kopi

Sebuah kisah luar biasa yang saya dengar dari sumber yang insya Allah terpercaya. Namun, saya tak begitu ingat detail tempat, waktu dan lainnya. Maklumlah saya kadang kurang baik ingatan soal detail sesuatu.

Kejadiannya ini terjadi di luar Indonesia, sebuah negara dimana penduduk yang memeluk islam masih minoritas. Awal kisah, sang suami mengenal islam dan akhirnya memutuskan meninggalkan agama lamanya dan kembali ke pangkuan islam. Namun, tidak sama halnya dengan sang istri ia tetap teguh dengan agama lamanya.

Meskipun mereka berbeda agama, mereka tetap rukun dan tidak bercerai. Di dalam hati sang suami dia berharap satu saat nanti istrinya akan mendapatkan hidayah untuk mengikuti jalan yang diambil suaminya. Suaminya tetap bersikap seperti biasa, tidak ada kekerasan yang dipertujukkan agar istrinya mengikuti dia.

Satu hari, kalau kata anak zaman sekarang gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba istrinya mengungkapkan keinginannya untuk memeluk islam. Tentu saja hal itu sangat membahagiakan sang suami. Dan akhirnya hiduplah mereka dengan penuh kedamaian dalam rangkulan islam. Loh, segitu mudahkah? Iya... Mendapatkan hidayah (surga) kadang semudah menyajikan kopi untuk suami di pagi hari. Mudahnya? Hehehe... Semua itu kalau Allah maunya mudah ya pasti mudah dan tidak susah.

Jadi rupanya sang suami kerap mengundang ulama maupun dai yang datang ke wilayahnya untuk main ke rumahnya ya sekedar bercengkerama, makan-makan atau ngopi-ngopi. Tiap ada yang datang pasti sang suami meminta istrinya yang menyiapkan makanan maupun minuman. Sebelum tamu pulang beliau titip doa kepada ulama/dai yang datang untuk ikut mendoakan kebaikan untuk istrinya. Jadilah, Allah bukakan pintu hidayah untuk istrinya sebab pelayanan istrinya yang baik untuk suami dan tamunya.

Pernah juga saya dengar dalam satu majelis di sebuah masjid seorang ulama mengatakan, wanita itu masuk surga mudah sekali, cukup dua langkah saja. Langkah pertama, taat kepada Allah dan Rasulullah. Langkah kedua, taat kepada suami (selama suami tidak mengajak berkhianat kepada Allah dan Rasulullah tentunya).

Sebuah kisah yang masyhur yang sering kita dengar, bagaimana wujud ketaatan wanita-wanita terdahulu kepada suami. Seorang wanita dipesan oleh suami untuk tidak pergi keluar rumah sebelum sang suami kembali dari medan perang. Wanita tersebut gigih menjaga amanat suaminya bahkan sekalipun dikabarkan orang tuanya meninggal dunia dan wanita tersebut diminta untuk datang melihat orang tuanya untuk terakhir kalinya namun sang wanita tetap tak meninggalkan rumah. Wanita-wanita amanat seperti ini pasti akan mendapatkan ridha suami dan inilah yang akan menjadi kunci baginya untuk masuk ke surga.

”Siapa saja wanita yang meninggal, sedangkan suaminya ridha kepadanya, maka dia masuk surga.” (HR Tirmidzi)

Semoga Allah juga menjadikan wanita-wanita di rumah kita baik ibu, istri dan anak keturunan kita menjadi wanita-wanita surga. Percayalah, ketika wanita dengan senang hati misalnya menyediakan sarapan atau sekedar segelas kopi sebelum suami memulai aktivitas (bekerja) dan itu membuat hati suami senang dan kesenangan suaminya di bawah ke tempat kerja serta menyebar ke tiap orang di tempat kerja dan kesenangan dari tiap orang di tempat kerja sampai ke rumah-rumah mereka. Bayangkan berapa banyak kebaikan yang dapat tercipta dari segelas kopi, yang gak suka kopi jangan protes ya :)

Segelas kopi, segaris senyum atau sebuah kecupan untuk suami bisa jadi merupakan cara mudah untuk mewarnai dunia dan menggapai surga. Insya Allah mudahkan?

------------------------------------------------
Gambar pada post ini saya ambil dari sini

Mata dan Telinga Tak Selalu Jujur

Dua orang malaikat berkunjung ke rumah sebuah keluarga kaya.  Keluarga  itu sangat kasar dan tidak mengijinkan kedua malaikat itu bermalam di ruang tamu yang ada di rumahnya. Malaikat tersebut ditempatkan pada sebuah kamar berukuran kecil yang ada  di basement. Ketika malaikat itu hendak tidur, malaikat yg lebih tua  melihat bahwa dinding basement itu retak. Kemudian malaikat itu memperbaikinya sehingga retak pada dinding  basement itu lenyap. Ketika malaikat yang lebih muda bertanya  mengapa ia melakukan hal itu,  malaikat yang lebih tua menjawab, "Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya."

Malam berikutnya, kedua malaikat itu beristirahat di rumah seorang  petani dan istrinya yang miskin tetapi sangat ramah. Setelah membagi sedikit makanan yang ia  punyai, petani itu mempersilahkan kedua malaikat untuk tidur di atas tempat tidurnya. Ketika matahari terbit keesokan harinya, malaikat menemukan bahwa petani  itu dan istrinya sedang menangis sedih karena sapi mereka yang merupakan sumber pendapatan satu-satunya bagi mereka terbaring mati.

Malaikat yang lebih muda merasa geram.  Ia bertanya kepada malaikat yang  lebih tua, "Mengapa kau membiarkan hal ini terjadi? Keluarga yang pertama memiliki segalanya, tapi engkau menolong menambalkan dindingnya yang retak. Keluarga ini hanya  memiliki sedikit tetapi walaupun demikian mereka bersedia membaginya dengan kita. Mengapa engkau membiarkan sapinya mati?"

Malaikat yang lebih tua menjawab, "Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya. Ketika kita bermalam di basement, aku melihat ada emas tersimpan di  lubang dalam dinding itu. Karena pemilik rumah sangat tamak dan tidak bersedia membagi hartanya, aku menutup dinding itu  agar ia tidak menemukan emas itu."

"Tadi malam ketika kita tidur di ranjang petani ini, malaikat maut datang untuk mengambil nyawa istrinya. Aku memberikan sapinya agar malaikat  maut tidak jadi mengambil istrinya. Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya."

Cerita di atas hanya sebuah tamsil yang saya dapat dari blog sebelah. Bukan sebuah kisah nyata namun sarat makna. Semakin dewasa kita mestinya semakin bijak dalam menilai hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Jangan mudah menuduh orang  lain dengan sesuatu yang belum kita fahami duduk persoalannya. Seringkali hal sebenarnya tak selalu seperti yang terlihat oleh kedua mata atau terdengar oleh kedua telinga.

Datangi dan tanyakan kepada yang bersangkutan langsung jika kita penasaran dengan sesuatu yang membuat hati kita tidak enak. Benarkah yang terjadi itu seperti yang kita lihat atau pun kita dengar. Jangan karena hal sepele persahabatan dan kasih sayang yang terjalin dengan teman, tetangga atau siapa pun berantakan hanya karena hal-hal sepele yang kita kira benar namun ternyata tidak seperti yang kita kira itu. Seribu kawan itu sedikit, satu lawan itu banyak.

Coba lihat foto pada post ini. Jembatan yang berada di Norwegia ini sudah banyak membuat pengguna jalan takut, dan memaksa mereka untuk berhenti dan berjalan kaki untuk memastikan jembatan itu bisa dilalui. Ternyata setelah dilihat dengan betul jembatan bisa dilalui tak seperti yang dikira di awal. So, berhati-hatilah, jangan mudah tertipu dengan apa yang dilihat dengan mata dan didengar oleh telinga.

Mama, Peluk Aku

Kalau mau jujur sepertinya semua orang sepakat bahwa ibu, mama, emak atau apa pun sebutannya adalah orang yang sangat-sangat tak terbalaskan jasanya. Tapi, sayangnya saya sendiri pun kerap melalaikan kehadirannya saat ini walaupun kami terpisahkan 800-an kilometer.

Tadi malam menjelang tidur saya sempatkan mantau twitter. Jamil Azzaini, guru kehidupan bagi saya walau belum pernah jumpa sama sekali :) nge-tweet dengan hastag #HormatiIbu. Membacanya satu demi satu membuat hati saya teriris-iris. Ya Allah... Ingin rasanya kutempuh jarak 800-an kilometer hanya untuk memeluknya. Berikut tweet-nya semoga bermanfaat :

#01
Dulu kau bawa aku 9 bulan kemanapun kau pergi, sekarang kau minta uang 9 juta aku mengeluh.

#02
Dulu kau selalu menemaniku saat aku sakit, sekarang bila kau sakit aku masih saja sibuk dgn pekerjaanku.

#03
Dulu kau ajari aku berjalan, sekarang saat kau jalannya melambat aku tak sabar menunggumu.

#04
Dulu kau antarkan aku ke sekolah, sekarang saat kau meminta aku mengantarmu aku marah.

#05
Dulu kau menyuapi makan untukku, sekarang aku "menyuapimu" dengan omelan bahkan terkadang cacian.

#06
Dulu aku sering merepotkanmu, sampai sekarang aku tetap merepotkanmu.

#07
Dulu kau terbangun saat mendengar aku menangis, sekarang saat kau menangis aku pergi darimu.

#08
Dulu kau sering membelaiku, sekarang saat kulitmu telah keriput aku lebih sibuk membelai bb dan hp-ku.

#09
Dulu kau selalu menjagaku, sekarang setelah aku punya anak aku meminta kau menjaga anakku, terlalu.

#10
Ibu, I love U, I miss U. Peluk aku walau hanya dalam anganku.

#11
Walau hujan di luar lebih deras dari air mataku tapi tak ada yg bisa menghalangiku untuk membahagiakanmu.

Semoga catatan kecil di atas akan semakin menambah bakti dan rasa cinta saya dan kita semua kepada kedua orang tua khususnya IBU. Selalu sertakan nama mereka berdua di dalam tiap doa, Sahabat.